Dalam jangka pendek, stimulus fiskal ini memang mampu menggerakkan perekonomian sehingga resesi tak menjadi semakin parah. Namun, ini akan menyebabkan defisit anggaran pemerintah AS terus membengkak, bahkan total utang pemerintah akhir tahun 2009 diperkirakan bisa mencapai 12,8 triliun dollar AS atau mencapai 90 persen dari PDB Amerika. Stimulus fiskal (yang otomatis memperbesar utang pemerintah) ini adalah pilihan buruk yang tak dapat dihindarkan, dan dalam jangka panjang akan menjadi masalah yang tidak ringan, karena akan menyulut kenaikan pajak bagi warga Amerika dan akibatnya menekan investasi di sektor riil.
Meski ada nada optimis, namun masih ada hal mengkawatirkan dalam upaya pemulihan ekonomi AS, yaitu fakta bahwa perangkat kebijakan moneter yang diambil sudah sampai pada tahap maksimal. Federal Reserve (bank sentral AS) sudah memangkas suku bunga pinjaman antar bank berkali-kali, bahkan sudah mencapai tingkat terendah (0 persen) sejak Desember 2008. Ben Bernanke, ketua Federal Reserve juga menyatakan akan mempertahankan sukubunga rendah ini sampai aktivitas ekonomi kembali normal.
Anehnya, kebijakan sukubunga nol persen yang ditujukan untuk menstimulus aktivitas ekonomi AS, terbukti belum menunjukkan indikator positif membaiknya sektor riil. Tingkat pengangguran tetap tinggi, bahkan sektor swasta masih terus melakukan PHK. Kondisi seperti ini dikhawatirkan akan menjadi ‘jebakan likuiditas' (liquidity trap), yaitu kondisi dimana kebijakan moneter dengan mematok tingkat suku bunga nol persen untuk memperbesar likuiditas (uang beredar) tetap tidak mampu menstimulus ekonomi dan menyerap tenaga kerja.
Dalam ekonomi, dikenal dua strategi pokok untuk menggenjot kembali perekonomian yang terpuruk. Strategi pertama disebut strategi monetaris (diprakarsai Milton Friedman), yaitu fokus kebijakan ekonomi melalui perangkat moneter (utamanya melalui kontrol likuiditas oleh bank sentral). Sementara, strategi kedua adalah melalui kebijakan fiskal yaitu lewat belanja pemerintah atau stimulus anggaran, yang dipercaya oleh kelompok Keynesian (diprakarsai John Maynard Keynes). Meski fokus kedua strategi berbeda dalam kebijakan praktis, namun penerapannya tak harus berseberangan (mutually exclusive), dan bisa dijalankan secara bersama seperti yang ditempuh pemerintah AS saat ini.
Harga Emas berlawanan arah dengan Dollar. Apabila Dollar menguat maka harga emas melemah dan sebaliknya apabila Dollar melemah maka harga emas akan naik. Tetapi sifat fluktuasi ini bersifat jangka pendek dan sementara. Bisa berlangsung 1 bulan, 2 bulan atau 3 bulan. Tetapi secara long term, semisal 1 tahun, harga emas cenderung naik. Hal ini dikarenakan emas bersifat Zero Inflation. Sedangkan mata uang cenderung mengalamai inflasi tiap tahunnya.